Selasa, 09 Februari 2016

Emak Ayam, Pitik, dan Ibu Berbaju Ungu

Sepupuku punya sepasang ayam, si betina sudah bertelur dan telurnya sudah menetas dua. Seperti emak-emak ayam lainnya, si emak ayam protektif banget sama anaknya. Nggak boleh dekat dengannya dalam radius dua meter, kalo berani dekat bisa langsung dipatok. Itu sakit tau.

Padahal sudah disarankan kalo saat si anak ayam menetas, langsung pisahkan dengan emaknya. Biar si anak mandiri dan emaknya bisa bertelur lagi, terlebih biar nggak baperan dan suka matok.

Terhitung dalam dua minggu setelah tuh ayam jadi emak, udah puluhan orang lewat jadi korbannya. Untung, ye, kagak ada yang laporin dia ke polisi atau sewot bunuh langsung tuh ayam. Namun nahas, di malam Tahun Baru, seekor anaknya menghilang waktu sepupuku berlibur ke Tangerang, beberapa hari lalu memang sudah pernah hilang dia, tapi ketemu lagi. Menurut kesaksian emakku (iya, emakku yang kalo bicara salah ucap mulu), saat siang masih ada, sorenya tau-tau tinggal satu.

"Tau tuh bego banget emaknya nggak bisa jagain anak, bisanya matok doang," kata emakku, ngatain ayam.

Si emak ayam yang suaminya nggak peduli lagi dan anaknya tinggal satu, makin parah galaknya. Lo lagi duduk tapi kaki nggak bisa diem, langsung dipatok.

Kemarin, Minggu pagi yang gerah, aku duduk di depan rumah uwakku. Kebetulan salah satu sepupuku yang bontot (anak uwakku ada sembilan, enam wanita, tiga laki-laki. Empat anaknya sudah menikah, tiga diantaranya masih tinggal di sini. Masing-masing dari mereka menghasilkan anak dua, jadi rumah uwakku selalu rame) sedang mencuci, aku duduk di depannya tepat di jalan. Si emak ayam dan anaknya lepas dari kandang, kini sedang mondar-mandir di jalanan mencari makan.

Ini Minggu pagi, gang depanku itu pasar sudah pasti ramai orang ke sana. Dari jalan kaki sampai naik motor, alhamdulillah nggak ada yang naik mobil. Repot karena pasarnya dalam gang yang tak menyediakan tempat parkir buat mobil dan roda empat lainnya.

Tuh, emak dan anak berkali-kali bikin orang-orang ke pasar ribet, terlebih aku dan sepupuku, harus jadi patung pas mereka lewat.

"Jadi patung, Ya. Nanti kayak gue pas lagi nyuci piring, bergerak-gerak dipatok ayam," katanya jadi patung.

Selang beberapa menit, terdengar suara seorang ibu berkata, "Eh, eh, eh."

Aku menoleh, tepat di sampingku. Si ibu memakai baju warna ungu, duduk di atas motor membonceng bocah, tatapannya tertuju ke sampingku dengan wajah ngeri sesaat. Aku mengikuti pandangannya, astaga..., si pitik sedang terkapar di belakang roda motor si ibu. Sebagian besar sepupuku langsung keluar rumah setelah mendengar seseorang yang menjerit pelan.

Aku diam terpaku di tempat dudukku, wajahku horor, dan sama sekali tak bereaksi. Seperti itu keadaanku kalau syok. Si ibu langsung menjalankan motornya, tanpa menolong maupun minta maaf. Uwakku mengambil si pitikyang masih bergerak lemah, selanjutnya yang kulihat begitu memilukan hati. Semua usus si pitik keluar dan emak ayam bingung mencari anaknya.

Ibu berbaju ungu, mungkin bagimu si anak ayam hanyalah seekor anak ayam dengan harga dua-tiga ribu, tapi tak seharusnya kau pergi begitu saja setelah melindasnya dengan kejam. Apa kau tak melihat bagaimana si induk kebingungan? Tak melihat aku dan lainnya syok tanpa bisa berkata apa-apa melihat kekejamanmu? Harusnya kau minta maaf. Biar si emak ayam galak dan anaknya kadang menjengkelkan, kami semua menyayanginya, gemas dengan tingkah mereka yang baperan.

Untung saja aku tak melihat wajah dan nomor platmu, Bu. Bisa-bisa aku khilaf dan merapal mantra supaya ban motormu bocor sepuluh lubang.

Emak ayam yang kini kehilangan dua anaknya terlihat mondar-mandir mencari anaknya. Suaranya kuyu dan sikap galaknya hilang.

Selamat jalan, Pitik. Tenang di sana bersama saudaramu yang kami yakini sudah mati :'(

RIP Pitik yang tewas secara mengenaskan.

By: Maya Luca yang Bersedih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar