Kamis, 12 November 2015

Father Day

Aku memanggilnya Bapak. Sosok yang tak bisa kupahami hingga kini. Jangan paksa aku menceritakan sosoknya, aku tak ingin. Tak bisa lebih jelasnya.

Aku hanya ingin memahami beberapa hal darinya: Dia pernah memotong kukuku, membuatkan nasi goreng jika ibu tak memasak, menemaniku ke suatu tempat yang kutakuti atau tak tahu, dan mengelap air mataku saat aku mencari perhatian darinya.

Saat aku memejamkan mata, teringat sosokmu, aku bingung. Aku tahu, namun tak mau paham, dan kau lupa kalau aku tetaplah seorang anak yang ingin ayahnya seperti mereka.

Bapak, ingin kutuliskan semua tentangmu, tapi tentangmu yang mana? Aku sungguh tak memahami bagaimana dirimu mengurus aku, mengurus anak-anakmu yang lain. Mungkin caramu memang berbeda dengan cara ayah lainnya. Cara yang membuatku salah paham hingga kini, hingga kau tak lagi  bersama kami.

Baapak, jika aku harus jujur, aku masih marah padamu. Kau memiliki banyak janji kepadaku. Memiliki banyak impian tentangku. Aku tak mau membicarakanmu, terkahir yang kuinggat, aku masih belum berdamai denganmu. Kau masih menjadi musuhmu saat kau pergi begitu saja menghadap Ilahi.

Namun, aku tetaplah anakmu, darah dagingmu. Tetap mendoakanmu, menangisimu, dan merasa kehilangan.

Bapak, mungkin kisah kita berdua tidaklah seru dan penuh suka-cita, tapi kita tetap punya kisah. Meski tak panjang. Doaku kulafalkan untukmu dalam setiap sujudku.

Maafkan aku, anakmu ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar