Selasa, 09 Februari 2016

Hari Ibu Tahun Lalu

Hal yang paling aku tahu dari ibuku, sosok yang tak pernah menunjukkan emosi apa pun. Ibuku selalu berusaha tegar agar dirinya tak terperosok di kubang kesedihan dan menelantarkan anak-anaknya dalam kelaparan.

Dulu waktu alm. Bapak masih ada, aku sering mendengar ibuku menangis. Namun, saat bapakku meninggal, ibuku menjadi satu-satunya sosok yang duduk di hadapan jenasah bapakku tanpa air mata, ia dengan mudah menceritakan mengapa bapakku yang kemarin masih sehat tiba-tiba meninggal. Satu-satunya yang kutahu ibuku sangat bersedih, saat melihat tatapannya yang kosong memandang semua orang yang hadir dengan wajah sedih, tatapan ibuku pun tak pernah lepas dari jenasah suaminya.

Kesedihan paling mendalam, saat kamu tak sanggup mengeluarkan air mata. Namun bagiku ibuku hanya ikhlas dengan takdir Allah.

"Jangan suka menangisi orang meninggal, air mata kita hanya akan membuat mereka yang pergi sedih. Menangis boleh, tapi jangan lama-lama." Ucapan ibuku selalu, jauh sebelum orang-orang yang ia sayangi dipanggil Tuhan.

Tak ada pelukan, belaian, dan kata-kata menyentuh hati sepanjang aku mengenal ibuku. Mungkin dulu waktu aku bayi, oh tidak, ibuku hampir meninggal saat aku bayi karena penyakit mengerikan. Aku satu-satunya anak ibuku yang minum susu formula. Ibuku selalu sibuk berjualan waktu kami kecil.

"Cuma si Maya doang yang beda sifat-sifatnya dari anak-anak gue yang lain. Kecilnya kagak disusuin gue, tapi sapi."

Mak, kurasa tak ada hubungannya sifatku yang beda sendiri dengan apa yang kuminum saat bayi. Lagipula, kata-katamu seperti menyiratkan aku ini anak sapi, bukan anakmu :D

Itu tak kusampaikan, biarlah aku dibilang beda sendiri. Bagiku itu pujian.

Seperti halnya diriku, tak menunjukkan emosi apa pun adalah sesuatu yang paling nyaman. Oh, salah lagi, itu warisan yang diturunkan ibuku untukku.

Walau ibuku begitu, aku tak pernah protes atau iri pada anak-anak lain yang punya ibu penuh emosi (positif). Ibuku marah seadanya, sedih seadanya, tersenyum sederhana, menangis berpaling muka, tangannya keriput waktu kucium, dan kata-katanya harus sering kuralat.

Aku mencintainya, ibuku mencintai anak-anaknya. Tak rela kalau kami meninggalkan rumah, tapi tak bisa berbuat apa pun saat dua kakakku tinggal di rumahnya sendiri (mertuanya). Aku masih harus diantarkan ke mana pun tahun lalu dan masih diberi celotehan panjang lebar (sampai ditakuti-takuti) kalau mau main jauh. Itu satu-satunya emosi nyata ibuku dengan wajah datar, tapi bermakna mendalam.

Kini sudah lebih empat tahun kami berbagi kamar, semakin kutahu dirinya yang dulu selalu tertutup. Ibuku sudah tak malu lagi cerita tentang hatinya (ibuku memang suka bercerita banyak hal, tapi bukan dari curahan hatinya. Ia selalu bercerita tentang orangtuanya, pertemuan dengan suaminya, masa kecilnya, dan hantu-hantu di negara ini), setiap malam ia akan berceloteh saat tahu aku sedang fokus di laptop, baca buku, main hape, dan pura-pura tidur.

Akulah penyampai pesan ibuku kepada kakak-kakakku jika ia menginginkan sesuatu. Aku dan kakak perempuankulah si pengalah saat ibuku lebih fokus kepada kebutuhan anak lelakinya. Oh, ibuku memuja anak-anak lakinya.

Kami, lima anak ibuku sama jika ingin menanyakan apa yang ibuku inginkan. Biasanya keingingin ibuku itu sederhana: diperhatikan. Kami semua memang anak yang kaku.

Bro 1: "Mak, beliin ini, sekalian kalo mau dan ambil kembaliannya." Memberi uang.

Sis: Jarang bertanya, karena biasanya aku yang menyampaikan pesan, tahu-tahu datang bawa pakaian atau memberi uang kepada ibuku. Ibuku selalu menunggu kedatangannya, bukan minta dua yang disebutkan, karena kakakku itu suka bawa makanan yang ibuku jarang makan mengingat lokasi dan harganya.

Bro 2: Ibuku biasanya jarang minta apa-apa sama kakakku yang ini, cukup dia membawa anaknya saja ibuku sudah bahagia. Namun, kakakku yang ini selalu siap sedia mengantar ke mana saja dan kapan pun.

Me: karena aku jarang punya uang, biasanya juga jarang nanya. Kalau lagi punya duit, ya, kami jajan berdua. Apa saja. Kalau uangku lebih, ya, kutanya lagi mau apa (biasanya barang kebutuhan).
Walaupun pengangguran, aku jarang minta uang sama ibuku. Biasanya aku pergi main kalau aku punya rezeki.

Bro 3 (bungsu): Pulang kerja bawa bungkusan dan berseru, "Wah, lupa cuma bawa satu. Mama mau apa Dani beliin?" Jawaban ibuku selalu sama, "Memang lo punya uang?"
Adikku itu selalu menjawab mau berapa memangnya, tapi kalau adikku tak mengeluarkan isi dompetku, ibuku berkata, "Nggak usah, Emak cobain aja makanan lo."
Kalau adikku menunjukkan uangnya, "Nggak usah, Emak cobain aja makanan lo, beliin es sirup Ajo."

Adikku meluncur pergi, aku mendekati ibuku karena tahu ada kelanjutan dari permintaannya. "Emak penginnya martabak telor Bangka." Aku biasanya cuma mendengus.
Kalau kusampaikan pada adikku di depan ibuku, ia akan mengelak dan berkata jangan.

Intinya, ibuku hanya ingin diperhatikan dengan hal-hal kecil, bukan sesuatu yang mewah. Itu membuatnya merasa tak nyaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar