Minggu, 21 Februari 2016

Aku Lupa Pisau Bedahku

Maya Luca
Judul: Aku Lupa Pisau Bedahku

Nirmala memandangku dengan benci, kedua tangan dan kakinya yang kuikat di kursi bergerak-gerak. Suaranya serak, karena sepanjang malam dia terus berteriak padaku. Aku memalingkan wajah ke lelaki yang kuborgol di tempat tidur. Masih telanjang bulat, dia menatapku dengan penuh amarah. Kedua pergelangan tangannya berdarah. Mulutnya kulakban, karena meludahiku semalam.

“Jodi, lepaskan Farid. Dia kesakitan,” ucap Nirmala.

Seperti kekasihnya, Nirmala telanjang bulat. Gadis hina, padahal baru sebulan orangtuanya meninggal dunia. Nirmala kini terlihat jelek, dia bukan lagi gadis kecil yang selama dua puluh tahun kucintai setengah mati. “Ssst, dia akan menyaksikan kematianmu, Nirmala.” Farid meraung dan berusaha bangkit dari tempat tidur. Nihil.

“Apa salahku padamu?” suara Nirmala mencicit.

“Karena kau tidur dengan si busuk itu! Aku sudah membebaskanmu dari keluargamu yang tak suka padaku, tapi kau masih mengabaikanku!”

Mata sembap Nirmala terbelalak. “Jadi, orangtuaku bukan bunuh diri? Kau membunuh mereka!” teriak Nirmala, menangis. “Suara wanita yang didengar ibuku sebelum meninggal, bukan halusinasinya?”

Aku tertawa kecil. “Itu suara ibuku, dia melarangku membunuh ibumu, tapi wanita itu tak bisa berbuat apa pun untuk menghentikanku.” Aku mendengus. “Kurasa sudah waktunya. Matahari akan segera terbit, aku harus bercukur dan pergi bekerja.”

Aku merapikan sarung tangan yang sejak semalam kupakai dan mengambil pisau di dapur Nirmala. Aku tak suka pisau dapur, terlalu tumpul untuk menyayat kulit yang alot. Favoritku adalah pisau bedah kecil, tapi lagi-lagi aku lupa membawanya.

“Apakah kau punya pisau yang lebih tajam, Nirmala?” tanyaku, Nirmala menggeleng, dia mulai menjerit-jerit lemah. “Menyedihkan sekali. Suaramu habis. Bagaimana kalau kita memotong lidah tak berguna itu?”

Nirmala menggeleng, mulutnya tertutup rapat. Farid kembali meronta, tapi tak kupedulikan kali ini. Aku membuka paksa mulut Nirmala. Jeritan Nirmala tertahan saat aku tak jadi memotong lidahnya. “Ini tak mengasyikkan, pisaumu tak cukup tajam. Hm, sepertinya ini akan sama seperti yang kulakukan pada orangtuamu.”

“Jangan, Jodi!” Pengganggu! Aku menoleh ke samping, ibuku. Seketika kutampar pipinya dengan kuat, hingga dia terempas ke belakang.

Sial, setiap kali menyakiti dirinya, aku merasakan hal sama. Wanita sialan, dia seharusnya sudah mati dua puluh tahun lalu, tapi dia masih mengikutiku ke mana pun. “Pergi!” bentakku.

Ibuku bangkit dan menatapku penuh permohonan. “Jangan lakukan lagi, Jodi,” ucapnya lembut, bibirnya robek dan berdarah.

Aku menjilat darah dari bibirku. “Diam! Dia mengabaikanku seperti keluarganya yang menganggapku sinting, dia ketakutan setiap melihatku. Sama sepertimu ketika aku berumur sepuluh tahun. Kau menjauhkanku dari adikku dan pura-pura mati saat kudorong dari lantai tiga. Kalian yang mengabaikanku harus mati,” teriakku kembali menamparnya, meski sakitnya kurasakan juga.

Aku kembali menghadap Nirmala. Aku harus segera bercukur, cambang di daguku yang baru tumbuh sungguh menganggu. “Suara wanita itu, kau?” tanya Nirmala, tepat ketika aku mengiris pisau di pergelangan tangannya.

Farid berusaha menjerit ketika kulihat keadaannya, dia menangis. “Kau akan bebas beberapa jam lagi. Semua ini akan menjadi rahasia kita berdua. Tak akan ada bukti apa pun. Nirmala mengalami gangguan jiwa, karena orangtuanya bunuh diri. Yah, tentu saja aku yang menulis semua itu waktu dia berkonsultasi padaku. Diamlah dan cari pelacur lainnya atau perlu aku menuliskan catatan gangguan jiwa untukmu juga?" tanyaku, segera melenyapkan semua bukti, kecuali pisau yang kini berada di tangan Nirmala.

Jakarta, 16 Januari 2016

Kompetisi menulis flash fiction di grup Belajar Bareng Bunda Veronica.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar