Maya Luca
Judul: Cinta Dalam Bom
Suasana pagi di dalam rumah sederhana yang berada di ujung gang, mencekam. Ada tiga orang pria di dalam sana, dua orang sedang menonton berita pengeboman kemarin siang di Sarinah, Jakarta Pusat, dan seorang lagi terbaring di sofa panjang dengan pandangan hampa. Sudah semalaman mereka dalam posisi itu, tiga cangkir kopi di meja tak tersentuh sejak disediakan.
Seseorang mematikan televisi dan menatap—pertama kalinya sejak ia masuk ke dalam rumah—seorang yang terbaring di sofa. “Sarinah? Sarinah! SARINAH!” Ia, Sanjaya pemimpin teroris, bertanya dan berteriak.
Lucky, seorang yang terbaring, tak merespon bentakan pimpinannya. Setetes air mata lolos dari mata Lucky, membuat Sanjaya geram. “Apa yang ada dalam pikiran lo ngebom kota sendiri? Gue bilang Suriah, itu jelas sekali!” seru Sanjaya kini berdiri, seorang yang duduk bersamanya masih geming. “Ini bukan pertama kalinya kita jadi teroris, Lucky! Lo orang kepercayaan gue. Bahkan saat gue suruh lo ngebom kandang ayam Pak RT karena ayamnya suka matok gue pas lewat, lo tanpa ragu melakukannya.”
Akhirnya Lucky menatap Sanjaya, setetes air matanya kembali lolos, ia duduk. “Gue tau, Bos, tapi—“ Lucky terisak, kini tetes-tetesnya semakin banyak.
“Gue tau ini buruk, Ky, tapi coba jelasin secara perlahan kenapa Sarinah. Itu jauh sekali sama kata Suriah,” ucap Rian, seorang yang masih duduk.
Lucky menggeleng. “Gue udah suruh yang lain pergi ke Suriah tanpa gue,” kata Lucky terisak, tatapannya tak lepas dari Sanjaya. “Lo tau, kan, Bos, mereka selalu curiga gue dapet kerjaan yang lebih keren dari lo. Jadi, mereka mengikuti gue ke Sarinah dan…, dan—“
Sanjaya tak tahan lagi, ia hapus air mata Lucky dengan kasar. “Jangan bilang ini soal itu?” tanya Sanjaya muak. “Idiot! Lo melalaikan tugas, membuat anak buah gue mati sia-sia di negaranya sendiri, dan saat mereka adu tembak sama polisi…, lo malah kabur!”
Lucky berdiri dan melototi Sanjaya. “Gue nggak kabur! Iya, soal itu. Ini penting buat masa depan gue, dan anak buah lo yang sok tau melukainya!” teriak Lucky, frustrasi. “Kalau lo mau bunuh gue, bunuh sekarang! Semuanya udah berakhir.”
Sanjaya membuang muka, ia menatap Rian yang masih terpaku. “Biarin idiot ini menenangkan diri dulu, Yan, tapi terus awasi dia jangan sampai berbuat konyol lagi. Gue pergi,” ucap Sanjaya, suaranya tercekat.
Sanjaya langsung keluar rumah tanpa menatap Lucky lagi. Baru sampai di depan pintu, Rian menahannya. “Tunggu, Bos!” serunya, seraya menyerahkan ‘gadget’ ke hadapan Sanjaya. “Ini Lusi, kan?”
Sanjaya mengangguk, wajahnya merah padam. “Iya, dia memang kerja di Sarinah,” jawabnya melihat foto gadis yang kakinya berdarah dan dipapah pengemudi sepeda motor berjaket hijau. “Ini soal Lusi. Cuma gadis itu yang bisa mengacaukan pikiran Lucky, tapi hubungan mereka sedang bermasalah, makanya gue menugaskan dia ke Suriah. Sekarang semuanya kacau.”
“Lo nggak apa-apa, Bos?” tanya Rian, prihatin.
Sanjaya menundukkan wajahnya sebentar dan menatap Rian, setetes air mata lolos dari mata kirinya. “Hati gue sakit, Yan. Cinta gue ke Lucky nggak berarti apa-apa buatnya,” ucap Sanjaya.
“Cinta bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan, Bos,” ucap Rian, tatapannya menerawang jauh dengan satu tangan memeluk Sanjaya yang kini menangis.
Jakarta, 23 Januari 2016
Kompetisi menulis flash fiction di grup Belajar Bareng Bunda Veronica